anak FS3LP kurang kerjaan..

February 7th, 2007 by zeus74

ini naskah pidato2an buat anak FS3LP yang lagi mau mecungul lagi. yang penting ikut ngisi, n seprti biasanya pake gaya passing tak beraturan.. tapi cewek2nya di acara kok dikit ya??? jadi gak birahi…

SELAMAT SORE, SURABAYA!

Mempersoalkan kebudayaan dalam ruang lokal sama dengan mengendurkan simpul fasisme sedikit lebih longgar. Tapi kebanggaan macam apa yang bisa dinikmati dari kebuntuan diskursif kota ini? Berkembangnya kemalaratan politik dan kebiadaban tanpa sesal melubangi keberadaan dengan cara yang kurang layak, keputus-asaannya serentak dengan harapan-harapanya. Simbol  kemakmuran dibentuk dari fasad-fasad mengerikan, etalase, perayaan ekshibisionis,lengkap dengan kecanggungan intelektual-intelektualnya. Kesopanan dalam tradisi kesehatan finansial dan bedah plastik teknokrasi ketinggalan zaman. Namun kita belum hancur.

Memaknai waktu periodik kebudayaan analog dengan durasi mental organik individu dalam partikularitasnya. Bukan bermaksud menyederhanakan, akan tetapi sejak akhir abad 19 itulah akar ilmu kemanusiaan.Biologi,ekonomi dan linguistik merupakan sintesis yang menyatu dan menyemangati kajian sosial, artinya sama dengan mempertimbangkan produk-produk kebudayaan keluarannya. Modernisme semacam ini sedikit perlu jika kita ingin menjelaskan subyek dengan lebih masuk akal tentang apa yang sedang terjadi.
Sistem, logika yang bersandar imanen dalam kemandirian spasi temporal pemaknaannya, membuat jenjang positivistik tanpa membiarkan klasifikasi dan fondasionalisme pencerahan mencampuri urusan tafsiran strukturnya. Itulah modern. Dan Surabaya menampilkan kemodernannya dengan ekspresi labil dan setengah jalan hingga meredupnya kritisisme dianggap tidak mengkhawatirkan. Tak ada kekritisan, cuma sensasi yang tak selesai. Untuk ini kita akan mengesahkan pernyataan Baudrillard; “ mereka yang tidak lagi memperlihatkan kekuatan negatif apa pun (progresif, kritis, revolusioner), konsekwensinya negativitas mereka hanya menjadi fakta atas ketidakterjadiannya. Bertul-betul mengganggu.”

Bisa dikatakan, urban yang diam dalam kesibukan inderawi tapi mustahil mencapai tujuan-tujuan historisnya. Keributan yang jatuh dalam lubang hitam arus modal dan laporan keuangan, hampir sama tidak beruntungnya dengan prestise borjuasi lama. Konstruksi sosio-historis yang berulang-ulang tapi tak menghasilkan apa-apa. Absurditasnya adalah parodi gagal dan kosmologinya diturunkan lewat halte-halte trasportasi akhir sejarah.
Mari kita catat lagi ambisi peniruan yang menjadi bagian rencana besar pemerintah daerah untuk mengejar tenggat mengatasi kebiadaban. Festival-festival dirias dengan aroma kontradiksi kultural kapitalisme, tapi bahkan untuk mencapai kontradiksi itu tidak mampu untuk dirumuskan. Lanskap pameran kekosongan dikunjungi pejalan-pejalan kaki kota yang telah berkompromi dengan konsumsi tanpa kekritisan. Seni adalah iklan Pendapatan Asli Daerah. Tidak ada yang bisa disalahkan, waktunya berputar tidak terlalu cepat tetapi ruang yang tertahan pada batas-batas imajinernya. Perkembangan teritori kapital yang tidak maklum atas tujuan-tujuan imanennya. Kemoderan serba tanggung. tapi kita belum hancur.

Apakah filsafat mampu menggantikan impian spritual masyarakat yang sempat menjadi ini?, Jawabannya tergantung sejauh mana logika kapital menerima tarika-tarikan penafsiran yang sekarang seperti sudah menjadi alamat alternatif setelah kesesatan-kesesatan estetik dengan arogansinya yang tragis bisa mengurangi reaksi-reaksi mereka sejalan dengan maksud yang lebih bernilai. Dengan dalih menghindari esensi, sebagaimana sekarang menjadi mode zaman,  metafisika penciptaan baru dibutuhkan untuk menyebar dan memusat pada inti identitas hipotetik yang hibrida. Hanya itu yang dapat dilakukan filsafat untuk bisa masuk ke dalam epidemi ini.
Membayangkan modifikasi kultur urban yang lain, seprti coena cypriani rahib-rahib akademis dan konsul-konsul kreatif , yang telah diutus warisan-warisan kemodernan,  yangs elama ini hanya menunggu kejumudan ini semakin membengkak. Kefanatikan yang kenes lebih mirip usaha mempermalukan diri namun dilakukan dengan cara defensif. Kareana tidak ada lagi strategi yang dianggap legal maka perayaannya berubah menggulung kewarasan sendiri lewat caci maki yang tidak jelas artinya. Penafsirannya klise, seperti panggung drama  yang hanya dimengerti satu arah. Tidak ada yang bersedia lebih resah, aktor-aktor dan sutradaranya terjebak dalam kuburan makna. Masyarakat seperti ini tak akan mengerti aksiologi.
“Menunjukkan hal yang penting, yang penuh energi,  mengalir, hasrat dalam keadaan yang tidak terdamaikan.. yang penting adalah metamorfosisnya, bukan obyek,” itu yang dikatakan Lyotard. Dan itu pop. Sementara kenaifan tafsir pekerja seni kita bahkan tidak dapat menjelaskan penolakan paradigmatis bahkan untuk sisi dialektiaka pencerahan sederhana saat berhadapan dengan estetika massal ini. Canggung tapi terikat dalam harga diri.
Kita tidak hidup di zaman Plato, tapi Demokritus. Tidak ada transendensi, yang diperlukan adalah imanensi. Kemodernan yang lain, kematian yang lain, kelahiran yang lain, hantu yang lain. Penyempurnaan rasa sakit ini mesti diperjelas sebelum terapi kritik dapat diberikan. Pencapaian simbol urban yang tidak saja anakronik tapi juga traumatik akibat pendefinisian yang mengalami pembekuan tentang kota ini. Hanya ada satu pilihan dan itu telah ditetapkan oleh kekuasaan sedemikian rupa lewat mandat demokratis meski kita memilih untuk menjadi “Yang-Lain.” Untuk rencana pengikisan terhadap kehendak kolektif ini yang dibutuhkan adalah transgresi. Namun seperti apa?

Penarikan diri dari publik sekaligus harapan untuk diterima sudah menjadi watak tipikal avant-garde, hanya ada individu dan bentuk adalah imanen. Kemodernan ini perlu diselesaikan. Nalar yang sekedar mencari keriuhan perlu disimpan sejenak, karena hanya dengan cara ini kita bisa menyelesaikan kemandegan. Regenerasi yang terburu-buru menyebabkan tercecernya kekayaan eidetik karena kesiapan belum terbentuk. Hanya ada keriuhan.
Mereka yang cuma bisa menerka-nerka akan mendapati kota ini sekedar derita di papan bawah, tetapi penglihatan yang luas akan mendapati kota ini sebagai janji. Entah terpenuhi atau tidak. Aura kota tidak terpancar dengan pengulangan melainkan penguraian unsur-unsurnya dan kemudian dibentuk kembali menjadi keutuhan identitas.

October 7th, 2006 by zeus74

Petikan dari naskah drama 2 babak yang aku tulis Juli 2006. Judulnya ‘Pantai’. Karena aku rada pikun jadi gak punya filenya lagi (kayak biasanya), ini aja nyempatin ngetik bentar dari yang dah dipotokopi … Lagi mau digarap Teater Gapus untuk menghibur genderuwo kampus B Unair. Mohon doa restu.

……………………………………………………………………
Jean : (Diam sebentar) Ini sebenarnya pertanyaan mudah tapisulit dijawab. Kau berjanji tidak akan menanyakannya lagi? Kenanganku akan perempuan itu telah menjadi harta karun dalam hidupku.
Jim : Aku paham itu.
Jean : Mari kita berbicara sebagai pesakitan yang mengangkat wajah meski siksaan jelas-jelas telah menghancurkan tulang kerangka harga diri kita (mengangguk-angguk).
Jim : Sekedar persoalan cinta, siapa yang perlu air mata?
Jean : (Tertawa) Kita memang telah tua. Saraf-saraf kita terpahat sedimikian rupa dan air mata tak akan mengikisnya. Biarkan saja, biarkan jika air mata mesti ada. Tetap saja hanya kita yang memahaminya apa makna di dalamnya. Pecundang-pecundang seringkali lebih mengerti makna kemenangan.
Jim : Keangkuhan yang indah.
Jean : Siapapun akan menyesal jika harus meninggalkan seseorang yang dicintainya. Biar kedai ini yang sekarang mendekapku. Kehangatan minuman-minuman ini menggantikan lengan lembut perempuan itu. Tak sama memang, tapi setidak-tidaknya minuman ini tak membingungkanku.
Jim : Aku pasti akan berpikiran sama denganmu (menenggak minumannya dengan singkat).
…………………………………………………………………………………

Pokoke….

October 7th, 2006 by zeus74

TANDA ATAU KATA? *
(Studi tentang puisi)

Membaca puisi adalah memahami bukan membahasakannya. Memahami berarti meleburkan makna menjadi luluh mencair ke dalam lapisan yang lebih dalam dari ego seorang pembaca, menegaskan imaji-imaji menjadi substansi dengan aspek privat. Narasi yang mengabsorbsi dan penolakan ditiadakan, konsekwensi arus kesadaran yang bekerja saat logika dan pheneumenon bertukar tempat, arus resiprokal penafsiran dengan aspek imanen teks tetap terjaga keberdiriannya. Membahasakan berarti menggumpalkan makna ke dalam aras leksikal lewat pengandaian-pengandaian fungsi komunikatif dan segala tuntutan yang mungkin. Membariskan makna ke dalam logika diagramatis lalu mencari kesesuaian pragmatika kontekstual, sistem, dan analogi. Dengan kata lain; memahami adalah ilusi, sedangkan membahasakan adalah konspirasi. Lalu dimana kebenaran puitik?
Menjumbuhkan makna pada kata sama dengan mengasingkannya. Tetapi itu tak terhindarkan dalam kesibukan-kesibukan sastrawi. Strukturalisme Levi-Strauss mengatakan, hanya musik dan mitos yang mempunyai substansi murni. Lalu Oktavio Paz mengasosiasikan puisi dengan musik, dan langkah selanjutnya bahasa dengan mitos. Menyusun kembali indeks-indeks substantif kebudayaan sesuai dengan perkembangan mitologi yang lebih kontemporer dan adaptif terhadap variasi teoritik.
Tetapi puisi dalam kondisi di luar garis lingkaran mitos pembacaannya berbeda sekali, terlebih jika puisi mengada pada situasi yang lebih aktual. Disinilah konvergensi tanda atau konsistensi bahasa menjadi pilihan, karena yang satu berurusan dengan lingkup positivistik (bukan dalam pemahaman epistemologis tetapi ontologis) dan yang lain mengandaikan sejarah. Yang satu berada pada ruang-waktu intrinsik dalam dirinya dan satunya lagi memiliki perwujudan yang bergantung pada rentetan teks. Perbedaan partikularitas dengan kesenyawaan.
Dalam pengertian semiotik mungkin tidak menjadi masalah jika melihat tanda sebagai entitas yang tersusun dari penanda (signifier) dan petanda (signified). Tetapi tanda dalam lingkar puitik, faktorisasi tanda menjadi semacam diagram makna yang linear bisa merontokkan arti penting puisi. Tanda dalam llingkar puitik, untuk menghindari term lingkar hermeneutik, mewujud hanya pada durasi sang pembaca. Dengan kondisi ini, hampir dipastikan kritik sastra adalah tidak mungkin. Tetapi kritik sastra ada, sehingga muncul pertanyaan: darimanakah tanda itu dapat disublimasikan menjadi logika pembacaan?
Inilah kontradiksji yang selalu ada dalam filsafat analitik model permainan bahasa. Fungsi makna yang ingin dikomunikasikan sejatinya tidak menggambarkan citra obyek seperti dibayangkan penutur namun memiliki nilai pragmatis. Disini perbedaan puisi dengan bentuk komunikasi lainnya, karena ia hanya dapat dipahami namun tak dapat dibahasakan. Menjadi wajar jika ia dipararelkan dengan musik dan mitos.
Kata, merupakan elemen bahasa dengan kelenturan noetik dalam sajak tidak cukup mampu membendung kontradiksi-kontradiksi ini. Kata tidak memiliki lubang hitam seperti tanda untuk melenyapkan makna, karena ia bergantung pada medan semantik yang menjadi sandarannya. Sifatnya yang selalu menjadi simpulan dari obyek membutuhkan petak sesuai dengan sisi praktis yang terkandung dalam kapasitas pemaknaannya. Ketergantungannya mutlak. Setiap gerakannya dikendalikan tekstur komposisi tanpa bisa memecahkan hubungan yang selalu melengkapinya. Kelenturan yang diciptakan oleh struktur senyampang dengan takdir bahasa an sich. Ketetapan kosmologis yang menjadi jaringnya tidak mengizinkan lepas dari orbit pemaknaannya dimana kata beredar. Subordinasi tanda atas kata, atau dapat kita katakan universalitas hipotetik tanda, setidak-tidaknya merepresentasikan bahwa tanda memiliki jangkauan yang lebih prismatik dan menyebar jauh melebihi kata. Studi ilmiah tentang tanda cenderung mengeliminasi fungsi tanda sebagai bentuk yang kurang mengejawantah, memiliki tendensi untuk mereposisikan tanda menjadi semacam representasi kongkrit seperti kata, bunyi, virtualiatas dan berbagai konstruk semiotis lain. Tanda lebih bermakna bebas melampaui sistematisasi yang dipermudah untuk pengamatan-pengamatan determinisme-silogistik. Klasifikasi yang diberikan analisis semiotik menghanguskan arti dasar (mise au pase) tanda sebagai transfigurasi perennial yang mengasalkan keberadaannya dari cerukk keserbamungkinan semesta. Fantasi keinginan yang khas tentang ‘asal-usul benda’ berdasarkan filologi dongengan (Malcolm Bowie, 2004).
Kita disini sedang membatasi pada masalah kebenaran puitik, antara kata dan tanda. Konsentrasi penyair terhadap kata menjadi sesuatu yang berbahaya dan merendahkan kapasitas mitos sebagai inti puisi. Puisi-puisi besar tidak muncul dari sekedar permainan semantik atas realitas lewat kesenggangan, kadang kesederhanaan (parsimoni) yang muncul dari konstruk puisi-puisi epik dan tragedi namun menyiratkan sesuatu yang melompati sekaligus menghidupkan masanya. Ini semacam penggunaan mitos dan semangat zaman yang dipadatkan menjadi sebaran tanda yang penuangannya pada kata hanya instrumental dan arbritrer. Puisi bukan simulasi linguistik saat hasrat bermain-main leksikon yang hanya cocok untuk mengisi teka-teki untuk pembelajaran pada awal fase verbal individu. Jika titik berat jiwa puisi adalah kata dan pencitraan fantasi maka kebaruan kreasi puitik sejatinya tidak ada disana. Karena kata dan pencitraan berbeda dengan kemunculan puisi yang merupakan penguraian tanda menjadi rangkaian ilusi kongkrit karena tanda disana membentuk keyakinan baru akan adanya lapisan makna paling samar, mendekati ketiadaan makna. Bukan keliaran yang menggusur kesadaran yang dibarukan dan menggantikannya dengan negasi yang tertuang melalui kegenitan spekulasi cara bertutur, yang jika dilihat kembali lebih mirip gejala aphasia daripada ketajaman melihat makna yang-Ada (Erfragte).
Kecurigaan berlebihan terhadap peran filsafat dalam memunculkan diskursus di ruang-ruang persepsi bisa dipahami sebagai lunturnya tradisi refleksi dalam kesusastraan. Usaha mengeksplorasi tanda telah diambil posisinya oleh produksi kata yang tidak bermakna apa-apa. Hanya sentilan-sentilan kecil emosi yang didapat jika puisi meninggalkan kebutuhan kontemplasi atas radikalitas tanda. Kompromi atas pembedaan antara aspek eskatologis dan kecarut-marutan fantasi akan menghancurkan iluminasi puitik yang saat ini makin meredup.
Mengembalikan pemahaman akan tanda dalam metode-metode arkhaik sebagaimana dipraktekkan dalam simbol-simbol pagan lebih bisa dibayangkan mampu menghidupkan aura tanda dibanding konstruk narasi penyair yang membariskan kata untuk pemaknaan yang sia-sia. Perlunya untuk mengambil kembali ide yang oleh Heidegger dirumuskan sebagai: “analisis tematik secara ontologis dari alam (Gemut)”. Tentu saja puisi tidak cukup untuk bersikap seperti itu, melainkan mencari kematiannya yang krusial mkemudian membangkitkannya berkali-kali.

*Thanks buat Iphtie yang kasi persetujuan soal judul.

njajal tok pokoke

September 3rd, 2006 by zeus74

Masih males nulis…………… ini tulisan lama waktu mau buka puasa  makan  semangka di parkiran sastra Unair, diedit dikit. Tapi tetap aja banyak sastranya , namanya aja diminta nulis anak sastra. Aku dhewe yo  bosen……….  Yok opo maneh?!

                                              Eros dan evolusi perwujudannya

Eros, yang dalam mitologi Yunani adalah dewa kehidupan, dieksplorasi Freud dengan psikoanalisanya untuk merepresentasikan fungsi ego yang berkecenderungan untuk mempertahankan kelangsungan eksistensinya. Memang bukan hla yang tepat untuk menerjemahkan karya di bawah psikologisme karena memunculkan sejumlah keberatan-keberatan tekstual. Namun bukan tidak mungkin untuk mengambil manfaat dari logika psikoanalisa yang dikonversi atau direkontruksi menjadi pola penguraian tanda dengan potensi semiotisnya.

Definisi eros sendiri bisa diperluas menjadi bukan sekedar referensi seksual melainkan semua bentuk pengawetan, pengabadian, dan penolakan akan kematian. Tendensi pelanggengan yang dalam manifestasinya mewujud dalam retasan-retasan adalah salah satu semangat eros dengan rupa sastra. Sebuah kondisi yang membingungkan apabila melihat bahwa fenomena yang biasa muncul pada teks-teks sastra yang bernas cenderung memamerkan kombinasi antara penghancuran diri dan gairah. Lalu dimanakah eros? Apakah gairah-gairah, yang bisa disebut eros itu, muncul sebagai pemanggilan (konjurasi) keadaan-keadaan yang tertolak dan musnah?

Pembangkangan eros melawan ketidakberdayaan melahirkan absurditas Nietzshean dimana nuansa tragis menjadi pesta pora Dyonisus. Maksud-maksud eksistensial ada pada pentahbisan dekadensi yang meluap dan tidak mengharap lagi garis batas yang ditentukan sejarah pencerahan dengan rasionalitasnya . Dapat diandaikan disini sebuah gambaran semangat abad 19 sebagai kelanjutan romantisisme yang meleburkan nalar dengan tradisi baru yang memuja nafas alam. Alam diposisikan dibawah keberlimpahan persep dan afek, menyusun dirinya dalam gairah-gairah imaji baru. Puisi romantik melukiskan kondisi ini lewat ilustrasi merekahnya hasrat penyair-penyair dengan ilustrasi pastoral yang berayun pada aristokrasi filsafat. Lalu muncullah tokoh-tokoh seperti Keats, Wordsworth, Rosetti, Byron, dan Shelley. Mempuisikan filsafat atau memfilsafatkan puisi, itulah tujuan utama semua pemikir romantik . Usaha mengabadikan rapuhnya sejarah ke dalam argumen-argumen liris.

Senyampang dengan eros, hiruk pikuk puisi romantik adalah pemanggilan (konjurasi) karya barok yang dihitung kembali dan dipetakan dengan menghilangkan ‘kota-kota Tuhan’ didalamnya. Spiritualitas dimaknai kembali sebagai konsekwensi kebangkitan hasrat penyangkalan. Tidak ada yang salah, kecuali kelemahan dan penyerahan diri kepada selain kebebasan. Barok yang aritmetis dan vektral dengan simbolisasi gnostiknya (sebagai konsekwensi skolastisisme) dikonversi lewat konsep-konsep estetika yang memuja anggur dan perayaan-perayaan pagan. Eve of St Agnes lebih mirip fantasi erotis penuh ornamen sakral dibanding, gaya gentleman dalam percintaan pra-Victorian. Hunchback of Notre Dame bukan sebuah karya gothik dengan liturgi akan kesucian jiwa manusia, melainkan penghujatan atas hipokrisi.

Karya romantik mengupas eros dan memasukkannya dengan hati-hati agar tidak mengganggu dinginnya teknik dan kehalusan metafisika yang dimiliki. Hasil akhirnya berupa komposisi yang memberi efek menenangkan dari aspek permukaan tapi memiliki endapan-endapan yang mencitrakan keterasingan.

Dekadensi pada gilirannya semakin diperkuat oleh simbolisme. Pikiran romantik masih dihantui oleh transendensi, pemilihan realitas profan dan sakral. Hal ini oleh Baudelaire, yang dianggap sebagai pancuran air simbolisme, ditanggapi dengan menghela pembaca ‘Les Fleurs du Mal’ pada bagian yang sangagt awal; bagi setiap inspirasi puisi transedental, ada satu perkara terkandung di dalamnya tentang adanya ketidakterbatasan pada terma benda-benda material, atau ceruk dalam (inner abyss) dibandingkan dengan kenaikan kegaiban . Persep  yang ditawarkan simbolisme memberi ruang semiotis lebih luas untuk mendeteritorialisasi makna dari penanda-penanda masyarakat kontemporer. Perspektif tentang keindahan seakan-akan bergulir dari platonik menjadi situasionis.

Cara hidup baru menjangkiti kota-kota modern dan memberi imaji-imaji yang mungkin tak pernah terbayangkan oleh penulis pra-simbolisme. Simbolisme mengawetkan perubahan industrial ke dalam pola ‘sublimitas produksi mekanis’ dan demagogi nihilis. Eros menampakkan wajahnya dalam raut muka revolusi industri. Dalam tulisan persembahan koleksinya kepada kepala editor La Presse, Arsene Houssaye, Baudelaire menulis; “Siapa diantara kita yang tidak memimpikan, di keseharian yang penuh ambisi, keajaiban sebuah prosa puitis? Mungkin berupa musik tanpa irama dan rima, lentur dan cukup mampu bertahan beradaptasi denagn lirik yang mengendalikan jiwa, gerak gelombang mimpi, kejutan kesadaran. Gambaran ideal ini, yang dapat berubah menjadi idếe fixe, sangat erat khususnya pada mereka yang berumah di kota-kota besar dan jaringan hubungan antar manusia yang tak terhitung.”

Pengawetan; sebuah pengekalan ingatan, peristiwa, gestur, dan abu keberadaan. Eros yang menyimpan dirinya pada tangkup ruh (Geist) belum cukup apabila persyaratan pembangkitan tidak memadai. Kobaran api yang menulis, menuliskan dirinya, tepat dalam kobaran dirinya. Karakteristik dari kobaran api, ruh mengikuti jalannya, mengambil jalan pintas.  Ini metafora sederhana kerja kreatif denagn kapasitas kebahasaan sebagai medianya. Frasa-frasa sastra mkeluar lewat celah sempit untuk pembobolan (breaching) demi dispersi imaji yang memimpikan dirinya agar menjadi aktual. Semua karya tak pernah selesai menggelar kelengkapannya. Perpaduan antara momen penciptaan yang muncul dengan kilasan minimalnya dan kemungkinan penafsiran, yang kadang kala malah menutup nyala murni teks. Karena sering ruh (Geist) pembaca tidak berada cukup dengan api.

Memegang eros dalam pemahaman statis akan melumpuhkan karya, entah pada tahap penciptaan atau pembacaan. Kebanalan memaknai eros tanpa melihat posisi pararelnya dengan kehancuran hanya memberi peluang bagi hasrat pengulangan, bukan penghargaan atas tanda-tanda yang mesti diabadikan karena memang ada ketidak-kekalan di dalamnya.

njajal..

August 15th, 2006 by zeus74

njajal lagi!!!

Mempertanyakan ‘Alibi’

Sedikit berbeda dengan pementasan-pementasan yang pernah dipertontonkan di Surabaya, kali ini datang naskah monolog Alibi yang penonton diajak untuk menyiapkan apresiasi tanpa harus berkerut kening. Lakon ini mengusung persoalan jati diri manusia di tengah konflik-konflik kepentingan yang menggerus kesadaran masyarakat modern. Perkara korupsi, rumah tangga, agama dan sebagainya di lontarkan dengan cara riang nan menggemaskan.
Mementaskan monolog dengan naskah padat bukanlah pekerjaan mudah bagi aktor yang hampa visi akan keaktoran. Tuntutan untuk mengolah intonasi, gestur, penjiwaan teks yang terus terfokuskan pada satu orang dia atas panggung jelas hanya bisa dipercayakan pada aktor nekat. Menguasai naskah dibedakan dengan menghapal laporan atau tulisan yang ditujukan untuk dibaca. Naskah drama sepenuhnya ditulis demi pementasan yang pada akhirnya akan menentukan nasib naskah itu sendiri. Alur dan kerangka lakon lebih mirip partiturdengan kemungkinan penafsiran musik dimana bagian pembuka, pertengahan dan akhir disusun sedemikian rupa sehingga penampil mampu merasakan getaran-getaran secara langsung pada notasi-notasi yang mengalir. Aktor disini mengambil peran seorang musisi yang keluwesan dan ketangkasannya dipersanding-bandingkan dengan naskah, yang kemudian diambil kesimpulan apakah nilai dari performa sebanding dengan naskah. Salah satu dari keduanya, naskah atau penggarap (aktor, sutradara, dan sekalian awak panggung), saling mengangkat atau menjatuhkan.
Tidak ada hukum pasti akan naskah monolog yang ideal. Satu kesempatan dalam menilai naskah semacam ini: apakah terdapat ruang gerak untuk trauma bagi aktor? Naskah monolog menjadi khotbah atau katekismus apabila teks-teks didalamnya ditulis uintuk mengendalikan momon-momen subyektif aktor. Kata dalam drama tidak selentur nada dalam musik. Kata dalam drama memiliki analogi dengan fenomena-fenomena tekstual an sich , terlebih apabila aktor terpaku pada naskah-naskah beku. Bahkan reportoar juga tidak dapat disamakan dengan drama meski keduanya di permukaan memiliki kemiripan. Ini mengingat bahasa dalam keaktoran memantul kedalam personalitas bukan berhenti pada wicara. Rampatan-rampatan fakultas mental menuntut keterlibatan yang lebih krusial, sehingga naskah-nasakah dengan kepedulian rendah pada persoalan ‘ada bagi dirinya’ (l‘etre pour soi) seorang individu cenderung mentah apabila dipentaskan. Naskah yang miskin pengertian tentang jalinan kesadaran dan ketidaksadaran dalam eksistensi manusia menjadi artifisial karena berhenti pada keputusan-keputusan melumpuhkan: manusia yang difenisikan.
Mengalami panggung adalah memproyeksikan tubuh ke ujung-ujung persoalan dari sebuah tema pementasan dalam temporalitas yang kongkrit dan manifestatif. Tubuh tidak dapat tidak merupakan media utama seorang aktor. Tubuh mengundang persepsi audiens lewat bukan sekedar mesin yang bergerak sesuai hukum sebab akaibat. Dinamisasi tubuh merupakan akumulasi kehendak dan dipahami sebagai modus fenomenologis dibanding sebagai konsistensi fungsional. Artinya; tidak ada yang identik, tidak ada generalisasi, sepenuhnya menolak peniruan. Tidak ada aktor yang dapat mengkonsepsikan aktingnya dengan definitif kecuali sekedar gambaran hubungan samar-samar antara adegan dengan kelahiran baru manusia. Seiring pernyataan Artaud: “Saya mesti memiliki aktor-aktor yantg merupakan awal dari semua keberadaan, dengan kata lain, yang diatas panggung tidak takut akan sensasi sentuhan sebuah pisau dan amuk-ronta - yang mutlak nyata bagi mereka- dari sebuah kelahiran yang diinginkan ( a supposed birth). Tentu saja ungkapan diatas tidak ditujukan untuk pertunjukan akrobat, melainkan kepenuhan mental saat tubuh merupakan logika kehendak.
Pentas monmolog mirip lubang kecil yang dari sana diharapkan audiens dapat mengintip lanskap luas pikiran. Aktor memerankan ketunggalannya, mengoreksi kembali ingatan, ketakutan, maupun ilusi-ilusi biografis. Mempersoalkan ingatan sama saja dengan membuat persetujuan atau pengingkaran. Keduanya adalah kejadian yang yang berputar-putar dalam karakter Lelaki pada naskah S. Ja’i ini. Ketakutan yang diidap sang tokoh dapat dilihat kembali sebagai keterjeratan individu dalam reduksi-reduksi kolektif yang mendefinisikan pikiran dan tubuhnya melalui representasi diri yang tercerai berai. Pada suatau saat ia menjadi orang kantoran yang disiplin, di saat lain menjadi santri kurang ajar.
Salah satu peluang yang dimiliki pementasan monolog adlah kesempataan untuk mengurai kisah manusia secara tuntas dengan kemasan ‘minimalis’. Semuanya diserahkan kepada seorang aktor untuk mengaktualkan riwayat dan peristiwa melalui dialog dalam, baik sisi rasional atau absurd.
Ada beberapa resiko dalam memainkan naskah monolog. Diantaranya, kemungkinan penonton tidak dapat merasakan muatan naskah ( pesan, alegori, dan strkur) apabila aktor hanya keranjingan untuk menampilkan individualitas dari sisi permukaan. Kecenderungan ini sepintas kelihatan wajar, karena monolog bisa dikatakan sebagai pentahbisan seorang aktor. Yang menjadi masalah, keinginan mengekspresikan diri tanpa melihat kedalaman karakter tokoh yang sebenarnya menjadi substansi monolog dapat terkesampingkan. Jadilah pementasan itu sekedar panggung dengan seorang cerewet diatasnya yang cuma tertarik dengan ocehannya sendiri. Selain itu, musik dan setting jelas merupakan bagian penting sebuah pertunjukan yang akan membangun kosmologi panggung, tidak terkecuali monolog. Mengingat pengertian bahwa fokus utama monolog adalah aktor, dimana akar pertanggung-jawaban kemudian pembetuk mise en scene lainnya dinomor-duakan.
Komentar ini lebih bersifat teknis dan tidak ada hubungannya dengan kesempurnaan pertunjukan. Ini bukan sesuatu yang resmi, hanya untuk memberi sedikit cara pandang tentang presisi. Dan bermain memainkan teater dengan pas berbeda artinya dengan bermain dengan ukuran-ukuran resmi, betapun itu berupa teater realis.
Menonton monolog, apabila tokoh yang muncul seorang anti-hero, audiens akan lebih mampu menangkap substansi pertunjukan. Karena yang terangkat kemudian berupa pertentangan antara moralitas di sisi penonton melawan katarsis dia atas panggung. Kondisi ini memiliki potensi untuk menguat dalam monolog. Penonton mrupakan sejarah yang sifat linear maupun keterputusannya disatukan oleh seorang aktor dalam suatu durasi panggung. Karakter tokoh kepadatannya, secara paradoks, dapat diukur dengan melihat sejauh mana mampu mencairkan geneologi moral dalam dirinya sendiri. Dari sini, efek untuk menenggelamkan sejarah nilai yang dijadikan referensi penonton berlangsung dalam intensitas tinggi dan total. Ini yang menjadikan lebih pentingnya ejekan-ejekan subtil, guyonan cerdas, atau parodi daripada gaya gegap gempita. Ironi bukanlah kritik seperti layaknya propaganda atau pamflet-pamflet, ia merupakan kontradiksi yang direstui stelah merasa diperlukannya revisi kekuatan kehendak yang bercampur dengan perasaan ingin tertawa. Tokoh Lelaki disini merupakan salah satu upaya untuk menjungkirbalikkan nilai-nilai itu dengan tampilannya yang komikal dan tragis.
Kekutan kata bukanlah energi utama dalam pementasan drama. Mengemas naskah menjadi tontonan yang menarik membutuhkan usaha lebih dari sekedar memindahkan barisan huruf-huruf ke vokalisasi. Naskah drama, meski dapat dilihat sebagai naskah baca, disusun untuk dipentaskan. Bukan bermaksud mengidealisasi, tetapi aktor memulai pekerjaannya dengan menginternalisasi struktur heuristik dalam pembacaan seorang aktor, bukan pembaca biasa. Membaca naskah merupakan usaha menangkap ego yang mengendap-endap dibalik kata dan kemudian menggemakan dirinya lewat konstanta psiko-fisik. Konstanta yang mana menjadi arus kesadaran sang tokoh.

Karakter Lelaki dalam naskah Alibi merupakan wujud konversi emosi-emosi yang telah tertahan sampai batas yang dapat ditanggung seseorang. Ia membentuk ruang-ruang pribadinya dengan anarkis, sementara itu kenyataan sosial memiliki aturan mainnya sendiri yang sengat represif. Ia mencari alasan-alasan untuk mengabadikan kekecewaan dan perilaku anti-sosial kesukaannya. Alibi menawarkan parodi realis diwarnai ornamen-ornamen simbolik dan variasi tradisi lokal. Pengemasan multi-perspektif seperti ini sedikit banyak memberi peluang bagi penonton untuk tidak terpaku dalam visualisasi pentas realis. Kejutan-kejutan dijamin muncul karena aktor akan banyak berimprovisasi tanpa harus merusak naskah keseluruhan, dan naskah ini tampaknya mengizinkannya. Dengan iringan musik parodi, yang secara eksplisit disebut demikian dalam naskah, pentas ini dapat menjadi hiburan segar yang penonton tidak perlu meragukan kejahilannya.
Sebagai pementasan alternatif, monolog yang dibesut S. Ja’i ini dapat dijadikan sebagai model pengkoreksian teater realis. Putu Wijaya pernah mengatakan, teater realis di Indonesia datang sebagai penumpang asing yang langsung main kayu, dikontaminasi dan mempengaruhi tradisi-tradisi teater yang ada. Alibi menunjukkan sebaliknya: teater tradisi mempengaruhi teater realis.

Penulis adalah mahasiswa manula di Universitas Darul Ulum Jombang
Kadang-kadang ikut teater.

test! test!

August 15th, 2006 by zeus74

berhubung saya dari dulu ga pernah nyimpen file tulisan, untungnya ada yang tersisa. nih sebenarnya makalah buat mendiskusikan puisi tuh londo di dewan kesenian jawa timur. ngapunten… kapan-kapan saya bikin yang rada genah.

Kisah Antah Berantah
Membaca “Detik-Detik Indonesia” Martin Jankowski

Membaca puisi-puisi Jankowski, memberi cermin jernih buat orang Indonesia sendiri dan membuka bayangan yang lumayan utuh bagi mereka yang sama sekali asing akan Indonesia. Gambaran masyarakat dengan lanskap dimana tingkah polah tipikal dan sebenarnya tidak aneh bagi mereka yang menganggap dirinya lokal, terangakai memikat dan terang benderang dalam setiap bait.
Sebagai jenis kategori puisi, lebih terasa pas kiranya jika karya warga Jerman ini diberi istilah puisi travelling dibandingkan perjalanan (poetry of journey). Karakter penulisan yang mengambil semacam hasrat seorang blues traveller dibanding tokoh pelesir romantik yang suka menyelinapkan nama-nama dan artefak mitologis. Seorang beatnik bukan Homerik, meski memiliki retasan yang intens juga ke dalam wilayah sejarah.
Tidak banyak turis-turis yang menulis puisi meski tentu saja Jankowski bukan seorang turis, tapi predikat orang asing masih ada pada dirinya. Sebutan ini bukan sikap untuk meletakkan pemisahan eksistensial yang mendasar antara yang lokal dan ekspatriat, namun mengisyaratkan pemakluman jika terjadi sekedar kesalahpahaman atau cara pandang yang berbeda dalam memandang dunia. Untuk ukuran ini pemahaman ini Jankowski berhak mendapat pujian karena hampir rata-rata karyanya dalam antologi ini sangat mengena sekali saat menggambarkan kota-kota, ruang publik, keramaian, dan kelaziman setempat. Tafsirannya menyerupai Clifford Gertz saat menggeluti masarakat rural di Jawa dan Bali, perbedaannya pada masalah pilihan disiplin dan eksposisi meski jelas antologi puisi bukanlah laporan etnografi.
Timur dalam pandangan Barat, sebuah oposisi biner yang biasa disetujui, adalah endapan masa-masa dimana keaslian primitif dan dengan kemurnian spiritual eksotis yang biasanya menjadi tujuan mereka yang telah teralienasi dalam kemodernan untuk pulang lagi. Jankowski nampaknya tidak terinfiltrasi terlalu larut dalam pendekatan semacam ini, kemurinian lokal berjlan bersamaan dengan deras kemodernan yang memunculkan hubungan sosial khas negara berkembang dengan kocokan tradisi dan hutang luar negerinya. Ia masih menjaga kewajaran sikap dengan kejujuran Eropanya yang biasa mengatakan sesuatu yang memang begitu adanya seperti yang ia lihat, sekaligus dalam ukuran resmi karya-karyanya dalam antologi ini memamerkan betapa untuk ‘dalam gelap kamar-kamar jerman cahaya selatan masih menyala’. Dan itu Indonesia, mungkin. Dan ia tidak mengamatinya dari geladak kapal atau media massa.
Mempuisikan pengalaman dari negeri asing bukan berarti menghilangkan orientasi estetik yang telah dikemas dari rumah. Ini lebih dari persoalan teknik tapi proses kreatif yang di dalamnya pilihan tanda, obyek puisi, budaya asal, perbedaan pandangan dunia, dan resiko ketidaksinambungan ruang akan saling bersautan. Karenanya, tidaka adil untuk membandingkan penyair yang hidup tenang dekat danau kecil di belakang rumah seperti Emily Dickinson dengan penyair yang punya kegemaran melewatkan waktu di tempat-tempat indah atau janggal dan jauh dari rumah. Ini perlu dipahami, karena pada beberapa kreator hal tersebut mempengaruhi mode produksi mereka. Konsekwensinya bisa kentara pada bentuk dan komposisi, yang dalam tinjauan fenomenologis adalah pada galibnya manusia sebagai mahluk daging dan jiwa selalu berada durasi dan peta yang pelan atau cepat akan merasuki perkembangan eksistensi mereka.
Tapi aplikasi yang terlalu psikologistik dalam membaca karya akan menjatuhkan teks puisi kedalam lubang pembahasan ala psikoanalisa yang overdasis. Tidak berarti pengarang telah mati, namun unit analisa yang masih pantas untuk direkomendasikan adalah logika puitik itu sendiri. Dan ‘Detik-detik Indonesia’ tidak mengusik kehati-hatian dalam memahat kalimat dan struktur teks puitik sejauh itu tidak menghanguskan kehadiran dan kesadaran akan ruang si penyair. Jalinan antara metode stilistika yang biasa ditemui puisi modern gaya Dylan Thomas penggunaannya bersenyawa dengan niat tuturan, dan hasil akhirnya adalah kesenyapan lembut seperti tema sajak dimaksud (lihat nomor pusi ‘Meditasi Kecil Tentang Musik Gamelan’).Kesederhanaan yang liat dan bagaimana memproyeksikan struktur naratif menjadi sebuah bingkai rekaman sejelas potret. Potret yang memasukkan jiwa lanskap dan peritiwa yang sebenarnya itu adalah keseharian dan biasa. Tidak ada kemubaziran juga tanpa metafora hebat namun menceritakan segala yang dilihat lebih dari sekedar laporan perjalanan atau ulasan koran. Menuliskan persep atas realitas tanpa menghilangkan realitas itu sendiri dan mengusahakan agar pembaca turut hadir dalam momen-momen kesaksian, menuntut penyelesaian yang tuntas dan internalisai penuh akan jiwa dari realitas.
Kondisi yang berbeda dengan puisi yang lahir dari fantasi yang menempati kesaksian utama sebuah penulisan, menceritakan kejadian ‘nyata’ membutuhkan mata imajinasi yang lebih kaya (atau mungkin tidak juga?). Asal mula adalah keterlibatan. Begitu yang menjadi inspirasi dari puisi travelling. Karena tidak setiap mata mampu melihat begitu hebatnya kesan yang di dapat oleh manusia yang pertama kali mengawasi seorang ‘laki-laki tanpa kaki merangkak melalui hutan kaki yang bergerak’. Atau mungkin karena pengamat tersebut adalah penduduk negara dengan pendapatan per kapita belasan kali lipat dari negeri yang ia kunjungi? Atau mungkin penduduk lokal begitu acuhnya dengan kemiskinan? Kemiskinan mereka sendiri dan orang lain ( ‘Kereta api Jakarta-Bogor’ ). Tapi itu adalah persoalan sosiologi pembangunan bukan masalah ssstra.
Kembali ke persoalan teknik, tipografi Jankowski dapat diteladani menimbang efek-efek yang seperti harmoni kanon dan giga pada musik barok. Pendapat ini mungkin berlebihan, tapi secara reportoar akan kentara sekali. Pemenggalan kata yang seperti bersahut-sahutan dan mengalirkan warna yang mencair waktu membaca baris sesudahnya. Seseuatu yang yang hanya ada jika seorang penyair tahu apa yang ingin dikatakannya. Pragmatika penulisan memberikan ruang frasa yang lumer dan bergabung dengan imaji-imaji yang hidup.
Arus baris-baris kalimatnya tertata dan perhitungan klimaks sering mengena membentuk coda yang benar-benar menutup rangkaian deskripsi. Itu juga ada waktu mengulas kehidupan cicak, hewan tropis yang di negeri bersalju tak pernah ada bahkan mungkin juga tidak dikoleksi kebun binatang mereka. Kehidupan reptil yang merefleksikan riwayat peradaban dan teknologi negara dunia ketiga.

sebelum lampu listrik ditemukan
kita hidup dari apa
( Cicak )

Pembahasan akan keragaman budaya yang sebenarnya bagi masyarakat adalah jargon nasionalisme buat penyair travelling ini adalah laboratorium dimana asal usul kebudayaan dan mitos yang di Eropa sendiri telah berubah menjadi hutan pencakar langit dan pernik-pernik superkonduktor. Bagi kaum strukturalis perubahan sosial-budaya tidak berarti kenaikan derajat peradaban tetapi hanya brikolase sederhana yang berubah lebih canggih. Dan kecanggihan adalah kerancuan antara masa lalu dengan impian akan masa depan. Indonesia memberikan model yang bagi Jankowski seperti parodi suci dan diberi latar alam keindahan tropis.
Khusus untuk Surabaya, ada ketertarikan penyair yang sebenarnya apabila dipikirkan akan lebih ironis terasa, dan tragisnya penguasa lokal yang memberi ide. Tapi ini tidak perlu menjadikan warga kota ini seperti diremehkan karena kebodohan silang budaya dan kenaifan mereka dalam memandang ras, soalnya Jankowski hanya berterus-terang dan menganggapnya sebagai khazanah sejarah kebudayaan dunia.

penguasa Surabaya mengeluarkan perintah
agar sang kera dirawat dan dipelihara
dirantai pada sebuah batu di pelabuhan sebagai
hiburan untuk orang yang melemparkan makanan padanya
( Kera putih )

Tidak ada gading yang tak retak, untungnya itu tidak berada pada bagian krusial. Sebagai orang asing, Jankowski masih berkutat dengan komunitas masyarakat dan ‘ekologi’ yang sebenarnya belum menjadi representasi negeri ini yang dianggap ideal. Atau mungkin ini ia hanya kebetulan saja karena kolega yang lebih banyak berasal dari centre of excellence. Tapi memang itulah Indonesia, kadang hanya tersebut kota itu-itu saja.
Untuk soal estitika, karya Jankowski memang bukan satu-satunya yang bagus. Tetapi karyanya menunjukkan bahwa tradisi sastra di negeri nun jauh disana masih memiliki kacantikannya.